• SMK NEGERI 1 TEMPILANG
  • Menuju Kebebasan Mengajar

MENCIPTAKAN LINGKUNGAN PEMBELAJARAN DIGITAL DI SEKOLAH

Feri Adiasto, S.Kom

Guru Multimedia SMK N 1 Tempilang

"Guru adalah ujung tombak generasi tunas bangsa, gurulah yang pertama mengukir akan dijadikan apa generasi muda ini". Mungkin ungkapan bijak ini sudah tidak asing lagi kita dengar. Namun di zaman digitalisasi sekarang ini, dimana seluruh siswa sedari dini sudah hidup berdampingan dengan internet sedangkan jumlah guru belum berbanding lurus mengakrabi internet layaknya siswa, masihkah ungkapan bijak diatas relevan dengan kondisi guru sekarang ini?

Zaman yang terus berubah menuntut semua orang untuk cepat beradaptasi. Jika tidak, ia akan tersingkirkan dengan sendirinya. Tak terkecuali dengan para pendidik yang selama ini dikenal sebagai ujung tombak pencetak kualitas generasi penerus bangsa, Jika para pendidik tidak cepat beradaptasi dan bersahabat dengan internet, bisa-bisa akan terjadi gap dalam pembelajaran dan berimbas pada “ketidak-satu-frekuensian” dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran di sekolah.

Penelitian yang dilakukan oleh Cambridge International dan dirilis pada Bulan November Tahun 2018 membuktikan bahwa siswa Indonesia menduduki peringkat tertinggi secara global selaku pengguna perangkat teknologi informasi untuk mengakses internet dengan rincian pemanfaatan ruang IT / ruang komputer disekolah untuk mengakses internet sebesar 40%. Siswa Indonesia juga menduduki peringkat kedua tertinggi di dunia dalam penggunaan komputer desktop baik dirumah maupun di sekolah untuk mengakses internet sebesar 54%, setelah Amerika Serikat. Lebih lanjut, ada sekitar 67% siswa di Indonesia menggunakan smartphone untuk membantu mereka dalam kegiatan pembelajaran di kelas dengan atau tanpa perintah dari guru, dan 81% siswa menggunakan smartphone untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Namun, peralatan tradisional seperti pulpen, kertas, papan tulis tetap digunakan. Para pelajar di Indonesia juga berbeda tipis dengan Amerika Serikat sebagai pengguna laptop tertinggi untuk menyelesaikan pekerjaan rumah yang diberikan guru (84%, dibandingkan dengan 85% di Amerika Serikat).

Menyikapi hasil penelitian diatas, sekolah hendaknya segera menyadari urgensi untuk membangun lingkungan pembelajaran digital yang positif di sekolah utamanya dalam hal memanfaatkan perangkat teknologi komunikasi untuk mengakses internet. Salah satu upaya untuk “mensejajarkan level” siswa dan guru adalah perintisan dan pembiasaan kepada guru untuk mulai menggunakan internet sebagai asupan wajib dalam kegiatan pembelajaran mata pelajaran yang diampunya. Kemudian siswa dan guru bersinergi untuk membentuk ekosistem berbasis digital di sekolah karena memperdalam integrasi teknologi internet untuk mendukung pembelajaran siswa di sekolah akan membantu menyiapkan mereka agar siap berkompetisi di pasar global yang melek teknologi dan sarat persaingan.

Oleh karenanya, dalam rangka membentuk ekosistem sekolah berbasis digital, SMK Negeri 1 Tempilang merintis sebuah gerakan yang bernama Digital School Community (masyarakat digital sekolah) pada lingkup internal. Gerakan ini bertujuan untuk membangun ekosistem sekolah berbasis teknologi utamanya mempenetrasikan internet untuk mendukung pembelajaran disekolah. Untik itu, upaya yang mulai dirintis adalah sebagai berikut:

 

Membuat Akun Resmi

Langkah utama merintis ekosistem sekolah berbasis digital adalah dengan cara membuat akun resmi untuk masing-masing siswa dan tiap-tiap guru. Setiap platform sosial di internet seperti blog, facebook, instagram, dan youtube mengharuskan kita untuk membuat akun jika ingin terhubung dan memanfaatkan platform tersebut. Nantinya, platform sosial tersebut akan menjadi sarana bagi guru dan siswa untuk mencari materi, mendiskusikan materi, mengumpulkan tugas, dan sejumlah kegiatan pembelajaran maupun kegiatan edukatif lainnya.

Semisal blog. Ada banyak platform sosial berbasis digital blog yang ditawarkan secara gratis di internet, sebut saja blogspot, wordpress, webbly, tumblr, ghost, medium, dan lain masih banyak lagi. Guru harus menyeragamkan terlebih dahulu platform sosial blog mana yang akan digunakan dalam pembelajaran. Jika dilihat dari sisi user friendly (mudah digunakan) untuk pemula dan fitur yang sangat lengkap maka blogspot yang dikembangkan oleh perusahaan besar Google bisa menjadi pilihan terbaik. Blog dapat digunakan guru untuk mengupload materi pelajaran, mengupload tugas untuk siswa, dan sejumlah kegiatan lainnya.  Siswa berinteraksi dengan guru di blog dengan memberi pertanyaan, komentar, tanggapan atas materi yang di upload guru dan siswa di wajibkan untuk mengerjakan tugas yang diberikan guru di blog mereka masing-masing.

Platform sosial berbasis digital yakni youtube bisa dimanfaatkan guru sebagai media pembelajaran berbentuk video tutorial mengingat konten yang terdapat di youtube banyak yang berisikan tutorial cara membuat sesuatu. Dalam kaitannya dengan kompetensi keahlian multimedia, sangat banyak konten di youtube yang menyediakan tutorial untuk pembuatan produk multimedia seperti tutorial pembuatan animasi, iklan layanan masyarakat, desain grafis, dan tutorial-tutorial praktis lainnya. Pun demikian hal nya dengan kompetensi keahlian lainnya, youtube adalah gudangnya tutorial. Apapun tutorial video yang diperlukan, relatif bisa ditemukan di youtube.

Siswa juga dapat diminta untuk mengumpulkan tugas dalam bentuk video dan menguploadnya di laman youtube miliknya. Baik itu berbentuk video blog (vlog), tutorial how to, ataupun sekedar video stop motion sederhana yang memperlihatkan secara rinci tugas-tugas yang mereka kerjakan.

Platform sosial facebook dan instagram juga dapat dimanfaaatkan untuk menunjang pembelajaran. Pada facebook terdapat fasilitas untuk membuat grup facebook, semacam grup whatsapp yang tentunya tidak asing lagi bagi guru. Guru dapat membuat grup facebook untuk mata pelajaran yang diampunya sebagai sarana untuk memberikan informasi seputar kegiatan pembelajaran kepada siswa dalam grup tersebut dan sebagai bentuk interaksi di dunia digital.  Serupa dengan facebook, instagram juga memiliki layanan grup yang dapat digunakan guru untuk mendukung kegiatan pembelajaran

 

Siswa dan Guru Saling Terhubung

Hal yang paling fundamental dari sebuah rintisan gerakan Digital School Community adalah memastikan bahwa siswa dan guru saling terhubung di platform sosial. Hal ini dikarenakan platform-platform sosial tersebut digunakan untuk interaksi dalam kegiatan pembelajaran berbasis digital antar guru dan siswa. Bonusnya, guru bisa memantau aktivitas yang dilakukan siswa pada akun media sosialnya. Keterhubungan antar guru dan siswa pada platform-platform sosial sejatinya tidak melulu membahas materi pelajaran atau melanjutkan pembahasan pembelajaran yang telah dilakukan disekolah, keterhubungan ini bisa dijadikan momentum guru untuk berdiskusi, melatih kepedulian sosial, sikap kritis, empati, dan wawasan siswa perihal berita-berita sosial yang dibagikan guru dalam grup atau dalam blognya.

Kedepannya, bukan tidak mungkin gerakan Digital School Community ini akan melebarkan sayap dengan mengadakan kelas virtual, mengganti bahan ajar cetak dengan e-book dan menerapkan e-learning secara holistik dalam kegiatan pembelajaran dikelas.

Harapannya, rintisan gerakan Digital School Community ini selain dapat dapat membangun ekosistem berbasis digital di sekolah, juga bisa mengubah paradigma sebagian besar orang tua dan guru jika perangkat teknologi terutama smartphone yang dimiliki oleh siswa bukan semata-mata merupakan suatu yang membawa efek negatif melainkan bisa dimanfaatkan untuk menambah value dan mutu dalam kegiatan pembelajaran di sekolah.

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Menjadi Siswa Kejuruan Yang Memiliki Sense Of Bussiness

Astrina Dewi Dwi W, S.Pd Guru Akuntansi SMK Negeri 1 Tempilang, Kab. Bangka Barat   Seorang siswa sekolah kejuruan sedang mencari tas sekolah dipasar dekat tempat tinggalnya. Ketik

14/09/2019 08:57 WIB - Administrator
MEMPERSIAPKAN LULUSAN SMK MENGHADAPI ERA INDUSTRI 4.0

NOPRIANSYAH, S.Pd Pendidik SMK Negeri 1 Tempilang     Revolusi industri jilid satu telah merubah cara kerja manusia dimana terjadinya peralihan penggunaan tenaga kerja yang se

14/09/2019 08:57 WIB - Administrator